Kamis, 29 Mei 2014


MELATI DI TAPAL BATAS

          Hari demi hari terasa kian menyesakkan dada itulah yang dirasakan oleh melati bagaimana tidak, keputusan dari panglima kumbang untuk mempersuntingnya menjadi permaisuri harap-harap cemas itulah yang menghantui pikiran melati. Namun, panglima kumbang selalu meyakinkan melati bahwa ia akan datang melamarnya apabila saatnya tiba nanti tapi itu belum cukup untuk meyakinkan hati melati. Hatinya tetap gundah gulana itu semua karena pertanyaan dari pihak keluarga besar melati tentang kapan hari bahagia itu dilangsungkan. Sejalan dengan itu panglima kumbang juga dalam permasalahan yang tak jauh berbeda hatinya ingin segera memboyong permaisurinya itu pulang ke istananya tapi dia harus menunggu pihak keluarganya dulu berunding secara adat untuk menentukan hari bahagia itu. Sungguh hatinya tak enak dia takut keluarga melati mengira dia tidak serius dengan melati. ”Malang benar nasibku untuk menikah saja mesti repot begini” desahnya didalam hati. Kalau tidak karena menghargai mereka tentu panglima kumbang akan datang sendiri melamarnya.

          Melati tetap sabar menanti panglima kumbang datang namun yang menjadi pertanyaan melati ada permasalahan apa sampai masalah melamarnya saja mesti ditunda-tunda dan setiap kali melati bertanya pada panglima kumbang dia tidak mau berterus terang.

 “Kapan panglima kumbang akan melamarku?” Desak melati, Aaku belum berani memastikan waktunya sayang, tapi pasti aku akan melamarmu” jawab panglima kumbang. “iya tapi kapan?” Desaknya lagi, “Sabar dulu sayang” jawab panglima kumbang lagi, “Tapi janji panglima pasti melamarku” tegas melati, “Iya sayang jawab panglima kumbang.

          Hati melati sedikit terhibur dengan janji dari panglima kumbang untuk melamarnya walaupun hatinya tetap gundah karena waktu yang ditunggu-tunggu itu belum juga tiba. Namun dia percaya bahwa panglima kumbang tidak akan mengingkari janjinya karena mereka sudah menjalin hubungan cukup lama. “Ini semua mungkin ujian kesabaran dari Allah semoga aku mampu menghadapinya” tegasnya didalam hati.

         

Melati oh melati aku bagai di tapal batas

          Menanti pujaan hati menghampiri

          Dengan membawa berjuta pelangi

          Tuk hiasi impian yang hakiki.

         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar