Kamis, 29 Mei 2014


HIJRAH

Pagi ini tak seperti biasanya, sunyi dan suasana desa yang biasanya asri nampak muram karena hari ini aku akan pergi ke kota. Dengan linangan air mata dan do’a dari kedua orang tuaku, aku bertekad untuk menggapai cita-citaku dan dalam hati aku berjanji tidak akan pulang ke desaku ini sebelum aku berhasil.

“Hati-hati nak, jangan lupa sholat dan dimanapun kamu berada bentengilah dirimu dengan iman” kata ibuku.

“ Ya bu!”

“ Assalamu’alaikum”

“ Wa’alaikumsalam” jawab orang tuaku

Setelah mencium tangan ayah dan ibuku aku pun berangkat menuju pangkalan bus. Desaku memang terpencil sehingga untuk mencapai pangkalan bus itu aku harus naik ojek sejauh 5 km ditambah kondisi jalan yang rusak membuat jarak tempuh semakin lama. Hal inilah yang membuat aku bertekat untuk hijrah ke kota untuk melanjutkan cita-citaku kuliah disana sambil bekerja. Aku juga ingat pesan guruku waktu di sekolah MA yaitu: “Kalau kamu sukses nanti jangan hanya tinggal di kota tapi bangunlah desamu dengan ilmu yang kau dapat agar desamu maju dan berkembang”. Setelah aku pikir-pikir ternyata memang benar apa yang dikatakan guruku. Selama ini kebanyakan kalau orang sudah sukses di kota dia seakan lupa dengan desanya padahal dia itukan dari desa juga tapi dia tidak mau membangun desanya. Tanpa terasa setelah 30 menit perjalanan aku pun sampai di pangkalan bus sambil menunggu penumpang lainnya aku pun beristirahat sebentar. Maklum bus disini tidak langsung berangkat tetapi menunggu penumpang yang lain setelah bus penuh, baru berangkat ke kota.

Tidak berapa lama kemudian bus telah penuh berisi penumpang dan aku pun berangkat. Di dalam bus sambil memejamkan mata aku berpikir seperti apa suasana di kota? Apa benar kehidupan di kota itu lebih berbahaya daripada rimba belantara? Tapi aku menepis semua anggapan negatif dan meyakinkan diri bahwa dengan niat yang benar insya Allah, Allah akan melindungi dan menunjukan jalan yang benar, sambil terus berpikir tanpa terasa aku mulai tertidur.                                                                                                                         1

“Bangun mas!” Aku tersentak ketika penumpang disebelahku membangunkanku, ternyata sudah sampai di terminal kota penumpang pun berhamburan keluar. Aku pun ikut keluar dan perut ini mulai merasa lapar. Saatnya perut harus diisi kataku dalam hati ketika hendak membeli makanan aku pun tersentak “Masya Allah!” ternyata dompet dan uang yang ada di dalamnya raib. Aku pun tertunduk lesu mungkin saat aku tertidur di dalam bus tadi ada orang yang mencopet dompetku karena terlelap tidur aku tidak merasakan kalau dompetku diambil. “Ya sudahlah, semua sudah terjadi tak perlu disesali” kataku dalam hati. Alhamdulillah masih ada sisa uang Rp.5000,00 di kantong celanaku dengan uang itu aku hendak membeli makanan secukupnya sesampainya di depan warung makan aku tertegun dan merasa iba ketika melihat seorang kakek yang berdiri di depan warung itu pakaianya compang-camping, rambutnya awut-awutan dan dia terus memandangi ke arah warung itu. Aku pun mendekatinya dan bertanya kepadanya

“ Apa kakek lapar? “

“ Iya nak, sudah 3 hari kakek belum makan” jawab kakek itu.

Kasihan betul kakek ini tubuhnya yang renta ini tampak gemetar mungkin karena dia merasakan lapar yang teramat sangat, “ ini ada sedikit uang buat kakek“

“ Oh.... terima kasih nak..... terimakasih.” jawab kakek itu

Sejenak terpancar kebahagiaan diwajah kakek itu biarlah aku tidak jadi makan toh secara fisik aku masih lebih kuat dari kakek itu dan masih bisa berusaha untuk bekerja. Dengan langkah gontai aku berjalan menyusuri terminal pandanganku tertuju pada sebuah mushola akupun bergegas kesana untuk shalat ‘asyar dan beristirahat kebetulan jam ditanganku menunjukan pukul 15.30 saatnya untuk sholat ‘asyar telah tiba, benar saja beberapa saat kemudian terdengar adzan berkumandang.

Setelah selesai shalat berjamaah aku beristirahat di mushola sambil berpikir atas semua kejadian ini dan bagaimana aku harus menghadapi semua ini. “Apakah aku harus pulang kampung? Ah.... tidak! Aku harus terus berjuang” kataku dalam hati. Aku sudah berjanji jika belum mencapai citi-cita aku belum akan kembali ke kampung halamanku.

“ Apa ada yang bisa saya bantu? Sepertinya adik ini ada masalah?” tiba-tiba seorang kakek bertanya kepadaku.

2

“ Oh....iya kek, bolehkah saya menginap sementara di mushola ini?”

“ Boleh saja” jawab kakek

“ Dompet saya kecopetan tadi waktu diperjalanan, jadi uang saya raib semua sementara saya tidak punya sanak saudara di sini”

“O....begitu, kebetulan saya imam di mushola ini, perkenalkan saya Harun kalau adik?” tanya kakek itu.

“ Saya Ilham kek”

“ Apa tujuan adik datang ke kota ini?”

“ Saya mau bekerja kek, jika sudah ada biaya saya juga mau kuliah kek.”

“ Sungguh cita-cita yang mulia, jangan menyarah pasti ada jalan!” kakek itu memberi semangat.

“ Insya Allah saya tidak akan menyerah kek.”

“ Begini saja, lebih baik sementara nak Ilham menginap di rumah saya, sambil menunggu nak Ilham dapat pekerjaan. Bagaimana?”

“ Ya terima kasih kek, tapi apa tidak merepotkan?”

“ Tidak apa-apa, kebetulan kakek hanya tinggal bersama istri kakek, soalnya semua anak-anak kakek sudah berkeluarga.”

Setelah beberapa lama aku berpikir akhirnya aku setuju untuk menginap di rumah kakek Harun.

Beberapa saat setelah selesai sholat magrib akupun diajak makan malam bersama kek Harun dan istrinya. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah karena bisa bertemu dengan kek Harun yang baik hati.

Tanpa terasa waktu isya’ pun tiba kami pun shalat berjama’ah di mushola yang tidak jauh dari rumahnya.

 

3

Malam yang pekat tidak nampak karena terang benderang lampu disana-sini maklum saja beginilah di kota memang tidak pernah sepi dari aktivitas manusia, berbeda sekali dengan keadaan di kampungku setelah isya ‘pasti sudah sepi hanya suara jangkrik yang ramai disana sini.

Sepulang dari mushola akupun duduk berdua dengan kek Harun di ruang tamu sambil ditemani secangkir teh manis dan makanan kecil. “Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya nak Ilham bisa hijrah ke kota?”

“Semua berawal dari keprihatinan saya tentang keadaan kampungku kek, semua bidang kehidupan masih tertinggal”.

“Memang benar nak dan itu terjadi tidak hanya di kampung nak Ilham tapi hampir di semua kampung-kampung yang lain.”

“Maka dari itu kek, saya ingin menimba ilmu di sini dan nanti setelah berhasil saya akan pulang dan membangun kampungku supaya masyarakat bisa sejahtera”.

“ Bagus, aku mendukung niat baik nak Ilham”

Pembicaraan kamipun semakin asyik dan seru, ternyata kek Harun mempunyai wawasan yang cukup luas. Malam semakin larut akhirnya akupun dipersilahkan beristirahat oleh kek Harun.

 

 

 

 

 

 

By: Azz

 

4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar