HIJRAH
Pagi
ini tak seperti biasanya, sunyi dan suasana desa yang biasanya asri nampak
muram karena hari ini aku akan pergi ke kota. Dengan linangan air mata dan do’a
dari kedua orang tuaku, aku bertekad untuk menggapai cita-citaku dan dalam hati
aku berjanji tidak akan pulang ke desaku ini sebelum aku berhasil.
“Hati-hati
nak, jangan lupa sholat dan dimanapun kamu berada bentengilah dirimu dengan
iman” kata ibuku.
“
Ya bu!”
“
Assalamu’alaikum”
“
Wa’alaikumsalam” jawab orang tuaku
Setelah
mencium tangan ayah dan ibuku aku pun berangkat menuju pangkalan bus. Desaku
memang terpencil sehingga untuk mencapai pangkalan bus itu aku harus naik ojek
sejauh 5 km ditambah kondisi jalan yang rusak membuat jarak tempuh semakin
lama. Hal inilah yang membuat aku bertekat untuk hijrah ke kota untuk
melanjutkan cita-citaku kuliah disana sambil bekerja. Aku juga ingat pesan
guruku waktu di sekolah MA yaitu: “Kalau kamu sukses nanti jangan hanya tinggal
di kota tapi bangunlah desamu dengan ilmu yang kau dapat agar desamu maju dan
berkembang”. Setelah aku pikir-pikir ternyata memang benar apa yang dikatakan
guruku. Selama ini kebanyakan kalau orang sudah sukses di kota dia seakan lupa
dengan desanya padahal dia itukan dari desa juga tapi dia tidak mau membangun
desanya. Tanpa terasa setelah 30 menit perjalanan aku pun sampai di pangkalan
bus sambil menunggu penumpang lainnya aku pun beristirahat sebentar. Maklum bus
disini tidak langsung berangkat tetapi menunggu penumpang yang lain setelah bus
penuh, baru berangkat ke kota.
Tidak
berapa lama kemudian bus telah penuh berisi penumpang dan aku pun berangkat. Di
dalam bus sambil memejamkan mata aku berpikir seperti apa suasana di kota? Apa
benar kehidupan di kota itu lebih berbahaya daripada rimba belantara? Tapi aku
menepis semua anggapan negatif dan meyakinkan diri bahwa dengan niat yang benar
insya Allah, Allah akan melindungi dan menunjukan jalan yang benar, sambil
terus berpikir tanpa terasa aku mulai tertidur.
1
“Bangun
mas!” Aku tersentak ketika penumpang disebelahku membangunkanku, ternyata sudah
sampai di terminal kota penumpang pun berhamburan keluar. Aku pun ikut keluar
dan perut ini mulai merasa lapar. Saatnya perut harus diisi kataku dalam hati
ketika hendak membeli makanan aku pun tersentak “Masya Allah!” ternyata dompet
dan uang yang ada di dalamnya raib. Aku pun tertunduk lesu mungkin saat aku
tertidur di dalam bus tadi ada orang yang mencopet dompetku karena terlelap
tidur aku tidak merasakan kalau dompetku diambil. “Ya sudahlah, semua sudah
terjadi tak perlu disesali” kataku dalam hati. Alhamdulillah masih ada sisa
uang Rp.5000,00 di kantong celanaku dengan uang itu aku hendak membeli makanan
secukupnya sesampainya di depan warung makan aku tertegun dan merasa iba ketika
melihat seorang kakek yang berdiri di depan warung itu pakaianya
compang-camping, rambutnya awut-awutan dan dia terus memandangi ke arah warung
itu. Aku pun mendekatinya dan bertanya kepadanya
“
Apa kakek lapar? “
“
Iya nak, sudah 3 hari kakek belum makan” jawab kakek itu.
Kasihan
betul kakek ini tubuhnya yang renta ini tampak gemetar mungkin karena dia
merasakan lapar yang teramat sangat, “ ini ada sedikit uang buat kakek“
“
Oh.... terima kasih nak..... terimakasih.” jawab kakek itu
Sejenak
terpancar kebahagiaan diwajah kakek itu biarlah aku tidak jadi makan toh secara
fisik aku masih lebih kuat dari kakek itu dan masih bisa berusaha untuk
bekerja. Dengan langkah gontai aku berjalan menyusuri terminal pandanganku
tertuju pada sebuah mushola akupun bergegas kesana untuk shalat ‘asyar dan
beristirahat kebetulan jam ditanganku menunjukan pukul 15.30 saatnya untuk
sholat ‘asyar telah tiba, benar saja beberapa saat kemudian terdengar adzan
berkumandang.
Setelah
selesai shalat berjamaah aku beristirahat di mushola sambil berpikir atas semua
kejadian ini dan bagaimana aku harus menghadapi semua ini. “Apakah aku harus
pulang kampung? Ah.... tidak! Aku harus terus berjuang” kataku dalam hati. Aku
sudah berjanji jika belum mencapai citi-cita aku belum akan kembali ke kampung
halamanku.
“
Apa ada yang bisa saya bantu? Sepertinya adik ini ada masalah?” tiba-tiba
seorang kakek bertanya kepadaku.
2
“
Oh....iya kek, bolehkah saya menginap sementara di mushola ini?”
“
Boleh saja” jawab kakek
“
Dompet saya kecopetan tadi waktu diperjalanan, jadi uang saya raib semua sementara
saya tidak punya sanak saudara di sini”
“O....begitu,
kebetulan saya imam di mushola ini, perkenalkan saya Harun kalau adik?” tanya
kakek itu.
“
Saya Ilham kek”
“
Apa tujuan adik datang ke kota ini?”
“
Saya mau bekerja kek, jika sudah ada biaya saya juga mau kuliah kek.”
“
Sungguh cita-cita yang mulia, jangan menyarah pasti ada jalan!” kakek itu
memberi semangat.
“
Insya Allah saya tidak akan menyerah kek.”
“
Begini saja, lebih baik sementara nak Ilham menginap di rumah saya, sambil
menunggu nak Ilham dapat pekerjaan. Bagaimana?”
“
Ya terima kasih kek, tapi apa tidak merepotkan?”
“
Tidak apa-apa, kebetulan kakek hanya tinggal bersama istri kakek, soalnya semua
anak-anak kakek sudah berkeluarga.”
Setelah
beberapa lama aku berpikir akhirnya aku setuju untuk menginap di rumah kakek Harun.
Beberapa
saat setelah selesai sholat magrib akupun diajak makan malam bersama kek Harun
dan istrinya. Aku benar-benar bersyukur kepada Allah karena bisa bertemu dengan
kek Harun yang baik hati.
Tanpa
terasa waktu isya’ pun tiba kami pun shalat berjama’ah di mushola yang tidak
jauh dari rumahnya.
3
Malam
yang pekat tidak nampak karena terang benderang lampu disana-sini maklum saja
beginilah di kota memang tidak pernah sepi dari aktivitas manusia, berbeda
sekali dengan keadaan di kampungku setelah isya ‘pasti sudah sepi hanya suara
jangkrik yang ramai disana sini.
Sepulang
dari mushola akupun duduk berdua dengan kek Harun di ruang tamu sambil ditemani
secangkir teh manis dan makanan kecil. “Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya nak
Ilham bisa hijrah ke kota?”
“Semua
berawal dari keprihatinan saya tentang keadaan kampungku kek, semua bidang
kehidupan masih tertinggal”.
“Memang
benar nak dan itu terjadi tidak hanya di kampung nak Ilham tapi hampir di semua
kampung-kampung yang lain.”
“Maka
dari itu kek, saya ingin menimba ilmu di sini dan nanti setelah berhasil saya
akan pulang dan membangun kampungku supaya masyarakat bisa sejahtera”.
“
Bagus, aku mendukung niat baik nak Ilham”
Pembicaraan
kamipun semakin asyik dan seru, ternyata kek Harun mempunyai wawasan yang cukup
luas. Malam semakin larut akhirnya akupun dipersilahkan beristirahat oleh kek Harun.
By: Azz
4