Motivasi
merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan produktivitas baik dalam
dunia kerja seperti perusahaan ataupun dalam dunia pendidikan. motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong
dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan
yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi
ketidak seimbangan.
Menurut George R. dan Leslie W. motivasi adalah “……getting a person to exert a high degree of
effort ….” yang artinya motivasi membuat seseorang bekerja lebih
berprestasi.
Motivasi atau dorongan kepada karyawan untuk bersedia bekerja bersama
demi tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua macam, yaitu:
1.
Motivasi finansial, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan
imbalan finansial kepada karyawan. Imbalan tersebut sering disebut insentif.
2.
Motivasi nonfinansial, yaitu dorongan yang diwujudkan tidak dalam
bentuk finansial/ uang, akan tetapi berupa hal-hal seperti pujian, penghargaan,
pendekatan manusia dan lain sebagainya (Gitosudarmo dan Mulyono , 1999).
Teori motivasi dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu teori
kepuasan (content theory) dan teori proses (process theory).
Teori ini dikenal dengan nama konsep Higiene, yang mencakup:
1.
Isi
Pekerjaan.
Hal ini berkaitan langsung dengan sifat-sifat dari suatu pekerjaan yang
dimiliki oleh tenaga kerja yang isinya meliputi : Prestasi, upaya dari pekerjaan atau karyawan sebagai aset jangka
panjang dalam menghasilkan sesuatu yang positif di dalam pekerjaannya,
pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, pengembangan potensi
individu.
2. Faktor Higienis
Suatu motivasi yang dapat diwujudkan seperti halnya : gaji dan upah,
kondisi kerja, kebijakan dan administrasi perusahaan, hubungan antara pribadi,
kualitas supervisi.
Pada teori tersebut bahwa perencanaan pekerjaan bagi karyawan haruslah menunjukkan keseimbangan antara dua faktor.
Pada teori tersebut bahwa perencanaan pekerjaan bagi karyawan haruslah menunjukkan keseimbangan antara dua faktor.
A. Teori Motivasi Kepuasan (Content
Theory)
Teori ini
merupakan teori yang didasarkan pada kebutuhan insan dan kepuasannya. Maka dapat dicari
faktor-faktor pendorong dan penghambatnya.
a.
Teori Hirarki
Kebutuhan ( A. Maslow)
Konsep motivasi manusia menurut
Abraham Maslow mengacu pada lima kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis.
1. Kebutuhan
yang bersifat fisiologis (lahiriyah)
kebutuhan ini terlihat dalam tiga
hal pokok Manifestasi, sandang, pangan dan papan.
2. Kebutuhan
keamanan dan keselamatan kerja (Safety Needs)
Kebutuhan ini mengarah kepada rasa
keamanan, ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatan-nya,
wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan.
3. Kebutuhan
sosial (Social Needs)
Kebutuhan akan kasih sayang dan
bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja atau antar kelompok.
4. Kebutuhan
akan prestasi (Esteem Needs)
Kebutuhan
akan kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian. Kebutuhan akan simbul-simbul dalam
statusnya seseorang serta prestise yang ditampilkannya.
5.
Kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja (Self
actualization)
Setiap
orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan
kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali
nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang.
Dalam motivasi kerja pada tingkat ini
diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri
dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang
lebih tinggi.
Teori Maslow tentang motivasi secara mutlak menunjukkan
perwujudan diri sebagai pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan
pertumbuhan dan pengembangan individu. Perilaku yang ditimbulkannya dapat
dimotivasikan oleh manajer dan diarahkan sebagai subjek-subjek yang berperan.
b.
Teori Tiga
Motif Sosial (D. McClelland)
David
McClelland memelopori motivasi kerja berpikir, mengembangkan pencapaian
berbasis teori dan model motivasi, dan dipromosikan dalam perbaikan metode
penilaian karyawan, serta advokasi berbasis kompetensi penilaian dan tes. Ide nya telah diadopsi secara luas di berbagai
organisasi, dan berkaitan erat dengan teori Frederick Herzberg.
David McClelland menjelaskan tiga jenis motivasi, yang
diidentifikasi dalam buku ”The Achieving Society” yaitu:
a.
Kebutuhan akan prestasi (n-ACH)
Kebutuhan akan prestasi merupakan dorongan untuk mengungguli, berprestasi
sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses. Kebutuhan ini
pada hirarki Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan
akan aktualisasi diri. Ciri-ciri inidividu yang menunjukkan orientasi tinggi
antara lain bersedia menerima resiko yang relatif tinggi, keinginan untuk
mendapatkan umpan balik tentang hasil kerja mereka, keinginan mendapatkan
tanggung jawab pemecahan masalah.
n-ACH adalah motivasi untuk berprestasi , karena itu karyawan akan berusaha
mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis
tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Karyawan perlu mendapat umpan
balik dari lingkungannya sebagai bentuk pengakuan terhadap prestasinya
tersebut.
b. Kebutuhan akan kekuasaan (n-pow)
Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain
berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan
berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Kebutuhan ini pada teori Maslow
terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.
McClelland menyatakan bahwa kebutuhan akan kekuasaan sangat berhubungan dengan kebutuhan
untuk mencapai suatu posisi kepemimpinan.
n-pow adalah motivasi terhadap kekuasaan. Karyawan memiliki motivasi untuk
berpengaruh terhadap lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk memimpin dan
memiliki ide-ide untuk menang. Ada juga motivasi untuk peningkatan status dan
prestise pribadi.
c. Kebutuhan untuk berafiliasi atau bersahabat
(n-affil)
Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang
ramah dan akrab. Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang
erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain. Individu yang
mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang
memerlukan interaksi sosial yang tinggi.
McClelland mengatakan bahwa kebanyakan orang memiliki kombinasi
karakteristik tersebut, akibatnya akan mempengaruhi perilaku karyawan dalam
bekerja atau mengelola organisasi.
Karakteristik dan sikap motivasi prestasi ala Mcclelland:
a). Pencapaian
adalah lebih penting daripada materi.
b). Mencapai
tujuan atau tugas memberikan kepuasan pribadi yang lebih besar daripada menerima pujian atau pengakuan.
c). Umpan
balik sangat penting, karena merupakan ukuran sukses (umpan balik yang diandalkan, kuantitatif dan
faktual).
Penelitian McClelland terhadap para usahawan menunjukkan bukti yang lebih
bermakna mengenai motivasi berprestasi dibanding kelompok yang berasal dari
pekerjaan lain. Artinya para usahawan mempunyai n-ach yang lebih tinggi
dibanding dari profesi lain.
Kewirausahaan adalah merupakan kemampuan kreatif dan inovatif yang
dijadikan dasar, kiat dan sumberdaya untuk mencari peluang sukses (Suryana,
2006).
Kreativitas adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam
memecahkan masalah dan menemukan peluang (Suryana, 2006).
Inovasi adalah kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan
masalah dan menemukan peluang (Suryana, 2006).
Ciri-ciri pokok peranan kewirausahaan (McClelland, 1961 dalam Suyanto,
1987) meliputi:
1. Perilaku
kewirausahaan, yang mencakup memikul risiko yang tidak terlalu besar sebagai
suatu akibat dari keahlian dan bukan karena kebetulan, kegiatan yang penuh
semangat dan/atau yang berdaya cipta, tanggung jawab pribadi, serta pengetahuan
tentang hasil-hasil keputusan; uang sebagai ukuran atas hasil.
2. minat
terhadap pekerjaan kewirausahaan sebagai suatu akibat dari martabat dan ‘sikap
berisiko’ mereka. Seorang wirausaha adalah risk taker. Risk taker dimaksudkan
bahwa seorang wirausaha dalam membuat keputusan perlu menghitung risiko yang
akan ditanggungnya.
Dari hasil penelitiannya, McClelland (1961) menyatakan bahwa dalam keadaan
yang mengandung risiko yang tak terlalu besar, kinerja wirausaha akan lebih
tergantung pada keahlian- atau pada prestasi - dibanding pekerjaan lain.
Seorang wirausaha untuk melakukan inovasi atau pembaharuan perlu semangat
dan aktif. Mereka bisa bekerja dalam waktu yang panjang, misal 70 jam hingga 80
jam per minggu. Bukan lama waktu yang penting, namun karena semangatnya mereka
tahan bekerja dalam waktu yang panjang. Bagi individu yang memiliki n-ach
tinggi tidak begitu tertarik pada pengakuan masyarakat atas sukses mereka, akan
tetapi mereka benar-benar memerlukan suatu cara untuk mengukur seberapa baik
yang telah dilakukan.
McClelland menyimpulkan bahwa kepuasan prestasi berasal dari pengambilan
prakarsa untuk bertindak sehingga sukses, dan bukannya dari pengakuan umum
terhadap prestasi pribadi. Selain itu juga diperoleh kesimpulan bahwa orang
yang memiliki n-ach tinggi tidak begitu terpengaruh oleh imbalan uang, mereka
tertarik pada prestasi. Standar untuk mengukur sukses bagi wirausaha adalah
jelas, misal laba, besarnya pangsa pasar atau laju pertumbuhan penjualan.
c.
Teori Dua
Faktor (Frederick Herzberg)
Frederick Herzberg (Hasibuan, 1990 : 177) mengemukakan teori motivasi
berdasar teori dua faktor yaitu faktor higiene dan motivator. Dia membagi
kebutuhan Maslow menjadi dua bagian yaitu kebutuhan tingkat rendah (fisik, rasa
aman, dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (prestise dan aktualisasi diri)
serta mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi individu adalah dengan
memenuhi kebutuhan tingkat tingginya.
Menurut hasil penelitian Herzberg ada tiga hal penting yang harus
diperhatikan dalam memotivasi bawahan (Hasibuan, 1990 : 176) yaitu :
a. Hal-hal
yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang yang mencakup perasaan
berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan, dapat menikmati pekerjaan itu sendiri
dan adanya pengakuan atas semua itu.
b. Hal-hal
yang mengecewakan karyawan adalah terutama pada faktor yang bersifat
embel-embel saja dalam pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat
dan lain-lain sejenisnya.
c. Karyawan
akan kecewa bila peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari
kesalahan.
Herzberg menyatakan
bahwa orang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang
merupakan kebutuhan, yaitu :
1. Maintenance
Factors
Faktor-faktor pemeliharaan yang berhubungan dengan
hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentraman badaniah. Kebutuhan kesehatan
ini merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini
akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi.
2. Motivation
Factors
Faktor motivator yang
menyangkut kebutuhan psikologis seseorang yaitu perasaan sempurna dalam
melakukan pekerjaan. Factor motivasi ini berhubungan dengan penghargaan
terhadap pribadi yang berkaitan langsung dengan pekerjaan.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap akuntan dan ahli teknik Amerika
Serikat dari berbagai Industri, Herzberg mengembangkan teori motivasi dua
faktor (Cushway and Lodge, 1995 : 138). Menurut teori ini ada dua faktor yang
mempengaruhi kondisi pekerjaan seseorang, yaitu faktor pemuas (motivation
factor) yang disebut juga dengan satisfier atau intrinsic
motivation dan faktor kesehatan (hygienes) yang juga disebut disatisfier
atau ekstrinsic motivation.
Teori
Herzberg ini melihat ada dua faktor yang mendorong karyawan termotivasi yaitu faktor
intrinsik yaitu daya dorong yang timbul dari dalam diri masing-masing
orang, dan faktor ekstrinsik yaitu daya dorong yang datang dari luar
diri seseorang, terutama dari organisasi tempatnya bekerja.
Karyawan
yang terdorong secara intrinsik akan menyenangi pekerjaan yang memungkinnya
menggunakan kreaktivitas dan inovasinya, bekerja dengan tingkat otonomi yang
tinggi dan tidak perlu diawasi dengan ketat. Kepuasan disini tidak terutama
dikaitkan dengan perolehan hal-hal yang bersifat materi.
Sebaliknya,
mereka yang lebih terdorong oleh faktor-faktor ekstrinsik cenderung melihat
kepada apa yang diberikan oleh organisasi kepada mereka dan kinerjanya
diarahkan kepada perolehan hal-hal yang diinginkannya dari organisasi.
Adapun yang
merupakan faktor motivasi menurut Herzberg adalah: pekerjaan itu sendiri
(the work it self), prestasi yang diraih (achievement), peluang
untuk maju (advancement), pengakuan orang lain (ricognition),
tanggung jawab (responsible).
faktor
hygienis/extrinsic factor tidak akan mendorong
minat para pegawai untuk berforma baik, akan tetapi jika faktor-faktor ini
dianggap tidak dapat memuaskan dalam berbagai hal seperti gaji tidak memadai,
kondisi kerja tidak menyenangkan, faktor-faktor itu dapat menjadi sumber
ketidakpuasan potensial.
Sedangkan
faktor motivation/intrinsic factor merupakan faktor yang mendorong
semangat guna mencapai kinerja yang lebih tinggi. Jadi pemuasan terhadap
kebutuhan tingkat tinggi (faktor motivasi) lebih memungkinkan seseorang untuk
berforma tinggi daripada pemuasan kebutuhan lebih rendah.
Dari teori
Herzberg tersebut, uang/gaji tidak dimasukkan sebagai faktor motivasi dan ini
mendapat kritikan oleh para ahli. Pekerjaan kerah biru sering kali dilakukan
oleh mereka bukan karena faktor intrinsik yang mereka peroleh dari pekerjaan
itu, tetapi kerena pekerjaan itu dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka.
d.
Teori E-R-G (
Clayton Alderfer)
Alderfer mengemukakan tiga kategori kebutuhan.
Kebutuhan tersebut adalah:
a. Eksistence
(E) atau Eksistensi
Meliputi kebutuhan fisiologis sepeerti lapar,
rasa haus, seks, kebutuhan materi, dan lingkungan kerja yang menyenangkan.
b. Relatedness
(R) atau keterkaitan
Menyangkut hubungan dengan orang-orang yang
penting bagi kita, seperti anggota keluarga, sahabat, dan penyelia di tempat
kerja.
c. Growth
(G) atau pertumbuhan
Meliputi kenginginan kita untuk produktif dan
kreatif dengan mengerahkan segenap kesanggupan kita.
Alderfer menyatakan bahwa :
Pertama:
Bila kebutuhan akan eksistensi tidak
terpenuhi, pengaruhnya mungkin kuat, namun kategori-kategori kebutuhan lainnya
mungkin masih penting dalam mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan.
Kedua:
Meskipun suatu kebutuhan terpenenuhi,
kebutuhan dapat berlangsung terus sebagai pengaruh kuat dalam keputusan.
Jadi secara umum mekanisme kebutuhan dapat
dikatakan sebagai berikut:
• Frustration – Regression
• Satisfaction – Progression
B. Teori Motivasi
Proses (Process Theory)
Teori ini berusaha agar setiap pekerja giat
sesuai dengan harapan organisasi perusahaan. Daya penggeraknya adalah harapan
akan diperoleh si pekerja. Dalam hal ini teori motivasi proses yang dikenal
seperti :
a. Teori Harapan (Expectancy Theory)
Komponennya
adalah: Harapan, Nilai (Value), dan Pertautan (Instrumentality).
b. Teori Keadilan (Equity Theory)
Didasarkan pada tindakan keadilan diseluruh lapisan serta obyektif di dalam
lingkungan perusahaannya.
c.
Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
Didasarkan pada tujuan mengarahkan perhatian, mengatur
upaya, meningkatkan persistensi, menunjang strategi-strategi dan
rencana-rencana kegiatan.
d. Teori Pengukuhan (Reinfocement Theory)
Didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari
pelaku dengan pemberian kompensasi.
Berikut
penjelasan teori-teori tersebut:
a. Teori
Harapan (Expectancy Theory)
Victor Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori
motivasi berdasarkan kebutuhan infernal, tiga asumsi pokok Vroom dari teorinya
adalah sebagai berikut:
1. Setiap
individu percaya bahwa bila ia berprilaku dengan cara tertentu, ia akan
memperoleh hal tertentu. Ini disebut sebuah harapan hasil (outcome expectancy)
sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa suatu hasil
tertentu akan muncul dari tindakan orang tersebut.
2.
Setiap individu percaya bahwa bila ia
berprilaku dengan cara tertentu, ia akan memperoleh hal tertentu. Ini disebut
sebuah harapan hasil (outcome expectancy) sebagai penilaian subjektif seseorang
atas kemungkinan bahwa suatu hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang
tersebut.
3.
Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai
seberapa sulit mencapai hasil tersebut. Ini disebut harapan usaha (effort
expectancy) sebagai kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menghasilkan
pencapaian suatu tujuan tertentu.
Motivasi dijelaskan dengan mengkombinasikan
ketiga prinsip ini. Orang akan termotivasi bila ia percaya bahwa :
1. Suatu perilaku tertentu akan menghasilkan
hasil tertentu
2. Hasil tersebut punya nilai positif baginya
3. Hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha
yang dilakukan seseorang
Dengan kata lain Motivasi, dalam teori harapan
adalah keputusan untuk mencurahkan usaha.
b.
Teori Keadilan (Equity Theory)
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa
manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi
kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang
pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua
kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
─
Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang
lebih besar
─
Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam
melaksanakan tugas yang menjadi
tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan suatu persepsi tertentu,
seorang pegawai biasanya menggunakan empat macam hal sebagai pembanding, hal
itu antara lain :
1. Harapannya
tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi
pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya.
2. Imbalan
yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat
pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri.
3. Imbalan
yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta
melakukan kegiatan sejenis.
4.
Peraturan perundang-undangan yang berlaku
mengenai jumlah dan jenis imbalan yang pada nantinya akan menjadi hak dari para
pegawai yang bersangkutan.
c.
Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan
tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
(a) tujuan-tujuan
mengarahkan perhatian
(b) tujuan-tujuan
mengatur upaya
(c) tujuan-tujuan
meningkatkan persistensi
(d) tujuan-tujuan
menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
Teori ini juga mengungkapkan hal hal sebagai
berikut :
·
Kuat lemahnya tingkah laku manusia ditentukan
oleh sifat tujuan yang hendak dicapai.
·
Kecenderungan manusia untuk berjuang lebih
keras mencapai suatu tujuan, apabila tujuan itu jelas, dipahami dan bermanfaat.
·
Makin kabur atau makin sulit dipahami suatu tujuan,
akan makin besar keengganan untuk bertingkah laku.
d.
Teori Pengukuhan (Reinforcement
Theory)
Menurut B.F. Skinner Teori ini didasarkan atas
“hukum pengaruh” dan Tingkah laku dengan konsekuensi positif cenderung untuk
diulang, sementara tingkah laku dengan konsekuensi negatif cenderung untuk
tidak diulang.
Rangsangan yang didapat akan mengakibatkan
atau memotivasi timbulnya respon dari seseorang yang selanjutnya akan
menghasilkan suatu konsekuensi yang akan berpengaruh pada tindakan selanjutnya.
Konsekuensi yang terjadi secara berkesinambungan akan menjadi suatu rangsangan
yang perlu untuk direspon kembali dan mengasilkan konsekuensi lagi. Demikian
seterusnya sehingga motivasi mereka akan tetap terjaga untuk menghasilkan
hal-hal yang positif.
a.
Douglas
McGregor (teori motivasi X dan Y)
Douglas
McGregor yang menyatakan bahwa ada dua pandangan tentang manusia : yang pertama
pada dasarnya negatif (teori X) dan kedua positif (teori Y).
McGregor
berkesimpulan bahwa pandangan seorang manajer tentang sifat manusia didasarkan
atas pengelompokan asumsi tertentu dan manmusia cenderung menyesuaikan
perilakunya terhadap bawahannya sesuai dengan asumsi-asumsi tersebut .
Ada empat
asumsi yang dianut oleh para manajer dalam teori X, yaitu :
1. Pada dasarnya pegawai tidak menyukai pekerjaan, jika mungkin berusaha
menghindarinya.
2. Karena pegawai tidak menyukai pekerjaan, maka mereka harus dipaksa,
dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan-tujuan yang
diinginkan.
3. Para pegawai akan mengelakkan tanggung jawab dan mencari pengarahan yang
formal sepanjang hal itu terjadi.
4. Kebanyakan pegawai menempatkan rasa aman diatas faktor lain yang
berhubungan dengan pekerjaan yang akan memperlihatkan sedikit ambisi.
Sedangkan pandangan yang positif (teori Y) adalah :
1. Para pegawai dapat mnelihat pekerjaan sebagai sesuatu yang biasa seperti
halnya istirahat dan bermain.
2. Manusia akan menentukan arahnya sendiri dan mengendalikan diri, jika mereka
merasa terikat kepada suatu tujuan.
3. Rata-rata orang dapat belajar untuk menerima dan mencari tanggung jawab.
4. Kreativitas-kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan yang baik-tersebar
luas pada seluruh populasi dan tidak selalu merupakan hak dari mereka yang
menduduki fungsi manajerial.
Implikasi dari teori X dan teori Y terhadap
teori organisasi, Mc Gregor berargumentasi bahwa asumsi teori Y lebih disukai
dan dapat membimbing para manajer dalam merancang organisasi mereka serta dapat
memotivasi pegawai-pegawainya. Secara singkat teori ini menyatakan bahwa dua
pandangan yang jelas berbeda mengenai manusia, pada dasarnya satu negatif
(teori X) yang mengandaikan bahwa kebutuhan order rendah mendominasi individu,
dan satu lagi positif (teori Y) bahwa kebutuhan order tinggi mendominasi
individu.
Melihat teori-teori yang diungkapkan oleh para ahli maka penulis
menyimpulkan bahwa motivasi berprestasi mempunyai pengaruh yang cukup kuat
dalam produktivitas atau hasil karya seseorang di semua bidang. Semua itu
berkaitan dengan target dan tujuan setiap individu jika seseorang mempunyai
target dan tujuan maka dia akan termotivasi untuk mencapainya namun jika ai
tidak mempunyai target dan tujuan maka hidupnya hanya akan mengalir seperti air
saja dan secara otomatis dia tidak akan berprestasi.
Motivasi bisa muncul karena beberapa faktor yaitu:
v Faktor
internal atau diri sendiri yaitu ketika seseorang mempunyai tujuan atau target
yang ingin dicapai maka dia akan termotivasi untuk mencapainya.
v Faktor
eksternal atau dari luar yaitu datang bisa dari atasannya atau dia melihat
keberhasilan orang lain maka diapun termotivasi untuk berprestasi.
v Di lingkungan
perusahaan adanya gaji yang memadai dan terpenuhinya fasilitas juga memacu
motivasi para pekerjanya untuk berprestasi di bidangnya.
v Pemberian
hadiah, penghargaan dapat juga memberi motivasi para karyawannya untuk giat
bekerja sehingga dia bisa lebih berprestasi.
Seorang pemimpin yang baik maka dia harus mampu memotivasi
bawahannya dengan memberikan hak-haknya, penghargaan yang pantas, keteladanan
sikap dan memberikan peringatan dengan cara yang bijak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar